Pendidikan yang Memerdekakan
Pertama, Tut Wuri Handayani : Dari belakang , seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), seperti kita disekolah bagaimana mendorong anak agar mampu menentukan arah hidupnya kearah yang lebih baik sesuai pontensi yang dimilikinya, kedua Ing Madya Mangun Karsa : Seorang guru adalah pendidik yang selalu berada ditengah – tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya, karena guru harus dekat dengan murid, mendengarkan masukan murid terkait kegiatan belajarnya sehingga murid menemukan ide-ide dan gagasanya untuk melakukan kegiatan belajar yang penuh makna dan mampu berkarya, kalau saya liat di sekolah saat ini murid kita itu sudah memiliki kemampuan komunikasi yang baik di media online sehinggan mereka mampu mengakses semua berita serta ilmu-ilmu namun yang belum mereka mampu itu membuat konsep yang terukur dan terencana dalam mengembangkan diri maupun kegiatan yang dilakukannya hal inilah butuh guru yang menjadikan bagian terpenting, seperti beberapa kegiatan yang diselenggarakan OSIS, pramuka, atau eskul lainya, kegiatan yang akan diadakan keren-keren namun, kalau dilihat dari konsep mereka belum terarah dan terencana serta dalam melaksanakannya masih kegiatan sesaat belum menghasilkan kegiatan yang optimal yang bisa dirasakan dan bernuansa oleh semua yang menghadirinya. Dan ketiga, Ing Ngarsa Sung Tulodo : Seorang guru di depan harus menjadikan teladanyang baik, keteladanan inilah jangan sampai guru melakukan perilaku-perilaku yang kurang baik, seperti kedisiplinan ketika masuk kelas atau keteladanan dalam bersikap, berucap, karena murid bagian yang mampu mencopy atau meniru perilaku gurunya, maka keteladanan ini harus diperkuat dengan akhlak dan visi diri guru tersebut, sesuai visi sekolah serta visi pendidikan Indonesia, karena sejatinya anak lahir memiliki budi pekerti, watak, karakter adalah bersatunya (perpaduan harmonis) antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat, Anak bukan tabularasa “Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa” Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar (KHD).
Kemerdekaan juga harus melibatkan anak dalam sebuah kegiatan belajarnya sehingga terpenuhinya kesempatan memilih (chois), berdasarkan suara (voice) dan diberikannya kesempatan (onwnership) seperti yang bisa dilakukan disekolah seperti kegiatan osis, prmuka, paskibra atau kegiatan siswa terkait keterampilan atau projek, mereka membuat program serta melaksanakannya tentunya dengan bimbingan guru, serta kesepakatan yang dibuat. Seperti kegiatan Jum’at berbagi dan berkreasi : setelah pembagian jadwal tuga kegiatan berikutnya dari kegiatan awal sampai akhir murid yang menentukannya berdasarkan musyawarah kelasnya atau petugas upacara setiap hari senin.
Kemerdekaan lain yaitu sekolaha memfasilitasi serta mengakomodir kegiatan peminatan seperti peminatan dari pengembangan diri melalui Estrakurikuler setelah diadakan jejak pendapat maka diadakan eskut tersebut dan bisa membuat komunitas seperti Komunitas literasi, numerasi, budidaya tanaman hias, budidaya toga, budidaya hidroponik, budidaya/pembesaran ikan konsumsi, pemeliharaan ikan hias, karya ilmiyah, rohis, melukis atau komunitas lainya berdasarkan aset sekolah yang dimiliki baik aset berupa barang/benda atau aset memiliki guru atau warga sekolah yang membidangi serta memiliki kemauan yang tinggi untuk melakukan perubahan, mau berbagi serta bahagia dalam mengembangkan.
Kegiatan memerdekakan juga dilakukan terhadap kesiapan belajar yaitu : mengetahui sejauh mana pengetahuan dan keterampilan awal murid terhadap materi pelajaran yang akan dibahas, Minat yaitu sudah diuraikan diatas, dan Profil (gaya) belajar murid yang guru akomodir agar murid mampu memahami dan melaksanakan pembelajaran dengan baik yaitu dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi kontennya agar ia mampu materi yang ia memudahkan belajarnya, kemudian ketika proses kegiatannya semua murid diberikan ruang kemudahan cara mempelajari sebuah materi disesuaikan dengan gaya belajarnya seperti sebagian yang kinestetik diberikan ruang untuk memahami materi melalui diskusi atau berbentuk gerak, untuk yang auditori diberikan ruang untuk mendengarkan penjelasan atau berita dari radio dan lainya, sedangkan untuk yang visual guru memberikan pemahaman materi dengan tayangan – tanyangan atau melihat langsung, dan juga bisa melalui lingkungan belajar yang berbeda – beda sehinggan pembelajaran tidak membosankan.
Asesmen awal merupakan bagian yang terpenting dilakukan di sekolah-sekolah sehinggan pemetaan anak akan terlihat jelas untuk menjadikan dasar guru melakukan kegiatan pembelajaran dan pendidikan di suatu sekolah.
Memerdekaan tidak luput dari hal-hal yang tidak selaras terkait praktik prinsip pendidikan yang memerdekakan yang dirasa perlu diubah atau dikembangkan bahkan dihilangkan seperti pembiasaan guru sebagai pusat informasi sehingga dominan dalam menyampaikannya sehingga murid hanya menjadi pendengar setia, begitu pula dengan kemerdekaan yang tidak terukur seperti memberikan kebebasan kepada murid untuk belajar dengan tidak ada komitmen kesepakatan yang dibuat terlebih dahulu, atau pembiasaan guru kurang membimbing tugas keterampilan atau projek sehingga hasil akhir tidak terarah dan tidak sesuai dengan tujuan yang dibuat.
Komentar
Posting Komentar